Rabu, 26 September 2012
Eksotisme Pantai Bandengan dimata Luthfi
Apa yang terlintas dipikiran Anda ketika mendengar Kota Jepara?pasti anda menjawab Kota Ukir, ya....jawaban itu tidak salah, kemudian pantai apa saja yang terdapat di Jepara? Pantai Kartini, Pantai Pantai Mororejo, Pantai Pailus, Pantai Bondo, teluk awur, dan Pantai Bandengan. Pantai yang terakhir ini memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, ya...nama Pantai Bandengan telah akrab ditelinga masyarakat Jepara dan daerah sekitarnya, bahkan sampai terdengar keluar kota. Pantai Bandengan pertama kali diberikan oleh putra Sunan Muria yaitu Amir Hasan saat akan berpergian mengembangkan ilmu agama ke Kepulauan Karimunjawa. Ketika sampai di pantai ini, mereka menemukan banyak Ikan Bandeng sehingga wilayah itu dinamakan Desa Bandengan. Pantai yang ada di desa tersebut akhirnya dinamakan Pantai Bandengan. Anda dapat menikmati panorama pantai yang jernih dan berpasir putih. Selain itu, Anda juga dapat menikmati rimbunnya pepohonan pandan atau pohon perdu di sepanjang pesisir Pantai Bandengan Jepara atau yang dikenal juga sebagai Pantai Tirta Samudera. Pantai Bandengan memiliki struktur pantai yang landai dan air yang jernih dan bersih. Karena itu pantai ini cocok untuk menjadi tempat wisata pantai seperti berenang, bermain voli pantai, berperahu, atau sekadar bersepeda di pinggir pantai.
Selain itu, kondisi pantai utara Jawa relatif tenang membuat pantai ini relatif aman untuk menikmati permainan di pinggir laut maupun berenang. Bahkan pada saat Anda mencelupkan diri ke air laut yang bening, Anda dapat melihat ikan-ikan kecil sedang berlarian di dasar air laut.
Pantai Bandengan sering dikunjungi karena suasana alamnya yang unik. Anda dapat menemukan suasana pantai pasir putih yang luas. Kemudian Anda juga dapat menikmati keindahan air laut yang jernih. Serta yang menarik adalah hamparan pepohonan yang rimbun dan hijau di sekitar pantai. Tentu ini membuat suasana di Pantai Bandengan begitu sejuk dan nyaman. Keindahan pantai di sini mampu menyaingi keindahan pantai di Bali.
Anda juga dapat mengunjungi pulau di tengah laut dari Pantai Bandengan. Pulau yang dapat Anda kunjungi dari sini yaitu Pulau Panjang. Di pulau ini Anda dapat menyaksikan kekayaan alam yang indah yaitu flora dan fauna yang menarik. Anda dapat mengunjungi pulau ini dengan biaya yang relatif murah. Anda juga dapat berkeliling pantai dengan menyewa perahu atau kapal yang siap mengajak Anda berkeliling pantai sambil menikmati keindahan alam di Pantai Bandengan.
Seusai menikmati berbagai permainan yang menyenangkan di Pantai Bandengan hingga menjelang senja, tibalah saatnya Anda menikmati pertunjukkan yang memukau di pantai ini. Ini adalah pertunjukkan alam yang menakjubkan, yaitu proses terbenamnya matahari atau sunset. Anda dapat mengagumi keindahan matahari saat menuju perhentiannya di senja hari. Pantulan cahaya matahari yang meredup terlihat di air laut dengan ombak yang tenang di Pantai Bandengan ini. Momen seperti ini sering diabadikan oleh para fotografer yang kebetulan mampir di Pantai Bandengan Jepara.
Anda juga dapat menikmati panorama matahari terbenam atau sunset ini sambil menikmati makanan yang disajikan di restoran yang ada di bibir Pantai Bandengan.Kalau budget anda kurang untuk mengcover menu makanan yang ada di restoran anda bisa ke warung Bu Gipah yang harganya pas untuk kantong saudara. disitu disajikan menu masakan yang tidak kalah rasanya dibandingkan dengan menu direstoran.
Obyek wisata Pantai Bandengan tidak sulit untuk dikunjungi. Pemerintah Kabupaten Jepara telah menyediakan fasilitas jalan yang baik serta transportasi yang mudah menuju obyek wisata Pantai Bandengan. Jadi, jika Anda sedang berada di Jawa Tengah, tidak ada salahnya Anda mampir ke Jepara. Sambil melihat keindahan ukiran khas Jepara, Anda juga dapat mampir ke obyek wisata andalan Kabupaten Jepara yaitu Pantai Bandengan atau yang juga dikenal sebagai Pantai Tirta Samudera.
Selasa, 25 September 2012
Luthfi at PARIS VAN JOGJA
Luthfi and friend (Alumni SDN Kaliombo Angkatan 1994) menghabiskan liburan ke Jogjakarta. Setelah lama menempuh perjalan dari Jepara ke Jogjakarta akhirnya penantian kita pun terbyar lunas ketika sampai di tempat tujuan. Malioboro, dan Keraton menjadi menu pertama plesiran kali ini. dan yang terakhir tentunya adalan pantai Parangtritis. Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah
dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun
kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik
untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila
Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati
di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai
Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.
. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.
Baiklah, ATV mungkin hanya cocok untuk mereka yang berjiwa petualang. Pilihan lain adalah bendi. Menyusuri permukaan pasir yang mulus disapu ombak dengan kereta kuda beroda 2 ini tak kalah menyenangkan. Bendi akan membawa kita ke ujung timur Pantai Parangtritis tempat gugusan karang begitu indah sehingga sering dijadikan spot pemotretan foto pre-wedding. Senja yang remang-remang dan bayangan matahari berwarna keemasan di permukaan air semakin membangkitkan suasana romantis.
Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Bermain layang-layang bersama si kecil juga tak kalah menyenangkan. Angin laut yang kencang sangat membantu membuat layang-layang terbang tinggi, bahkan bila Anda belum pernah bermain layang-layang sekalipun.
Masih enggan untuk pulang walau matahari sudah terbenam? Tak lama lagi beberapa penjual jagung bakar akan menggelar tikar di pinggir pantai, kita bisa nongkrong di sana hingga larut malam. Masih juga belum mau pulang? Jangan khawatir, di Pantai Parangtritis tersedia puluhan losmen dan penginapan dengan harga yang terjangkau.
. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.
Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu
Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah
gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel
Queen of the South adalah sebuah resort mewah yang diberi nama
sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka
padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan
nafas.
Setelah lelah jalan-jalan disekitar pantai kita pun asyik menyantap makan dan minuman disana, salah satunya yaitu WEDANG RONDE yang semakin nikmat ketika diminum saat cuaca dingin.acara foto-foto juga tidak dillewatkan oleh Luthfi CS karena foto merupakan suatu bukti otentik kalu kita telah melalukan suatu kegiatan.
Sore pun menjelang ketika matahari sudah condong ke barat dan cuaca cerah, tibalah
saatnya untuk bersenang-senang. Meskipun pengunjung dilarang berenang,
Pantai Parangtritis tidak kekurangan sarana untuk having fun. Di pinggir pantai ada persewaan ATV (All-terrain Vechile), tarifnya sekitar Rp. 50.000 - 100.000 per setengah jam. Masukkan persneling-nya lalu lepas kopling sambil menarik gas. Brrrrooom, motor segala medan beroda 4 ini akan melesat membawa Anda melintasi gundukan pasir pantai.Baiklah, ATV mungkin hanya cocok untuk mereka yang berjiwa petualang. Pilihan lain adalah bendi. Menyusuri permukaan pasir yang mulus disapu ombak dengan kereta kuda beroda 2 ini tak kalah menyenangkan. Bendi akan membawa kita ke ujung timur Pantai Parangtritis tempat gugusan karang begitu indah sehingga sering dijadikan spot pemotretan foto pre-wedding. Senja yang remang-remang dan bayangan matahari berwarna keemasan di permukaan air semakin membangkitkan suasana romantis.
Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Bermain layang-layang bersama si kecil juga tak kalah menyenangkan. Angin laut yang kencang sangat membantu membuat layang-layang terbang tinggi, bahkan bila Anda belum pernah bermain layang-layang sekalipun.
Masih enggan untuk pulang walau matahari sudah terbenam? Tak lama lagi beberapa penjual jagung bakar akan menggelar tikar di pinggir pantai, kita bisa nongkrong di sana hingga larut malam. Masih juga belum mau pulang? Jangan khawatir, di Pantai Parangtritis tersedia puluhan losmen dan penginapan dengan harga yang terjangkau.
Senin, 24 September 2012
Tradisi "WEWEH" di Desa Kaliombo, Pecangaan, Jepara
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Idhul Fitri merupakan hari
raya bagi umat islam. Dan merupakan hari kemenangan, kemenangan dari hawa nafsu
setelah kita melaksanakan puasa ramadhan. Sebelum merayakan hari kemenangan,
kita melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Di bulan yang penuh berkah ini,
kita hendaknya memperbanyak amal shaleh seperti saling berbagi, saling
membantu, dan saling memberi.
Di desa Kaliombo, masyarakat
sangat antusias menyambut hari raya Idhul Fitri. Sebelum hari raya Idhul Fitri
tiba, masyarakat telah mempersipakan segala kebutuhan yang berkaitan dengan
Idhul Fitri seperti makanan, kue, pakaian dan lain-lain. Manusia adalah mahluk
sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Manusia tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga memerlukan bantuan orang lain dalam
rangka untuk memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Kaliombo yang terdiri dari
individu-individu yang berbeda latar belakang sosial dan ekonominya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya juga saling ketergantungan satu sama lain. Menjelang
Idhul Fitri, kebutuhan seseorang akan meningkat dan mendesak untuk segera
dipenuhi. Untuk menghadapi keadaan seperti ini setiap individu saling membantu
satu dengan yang lain dengan cara pertukaran. Menurut Cook (1973:823) pertukaran
merupakan konsep yang berhubungan dengan sosok-sosok tentang pengubahan barang
atau jasa tertentu dari individu-individu atau kelompok-kelompok, dan
pengubahan ini dilakukan dengan cara memindahkan barang atau jasa kepada
individu-individu atau kelompok-kelompok lain guna mendapatkan barang atau jasa
yang dibutuhkan. Sehingga di desa Kaliombo satu minggu sebelum Idhul fitri,
Ibu-Ibu memasak masakan yang akan diberikan kepada kerabat dan tetangganya.
Masakan tersebut didalamnya terdapat nasi, telur, sayuran dan lain-lain.
Kegiatan membagi-bagikan atau memberikan makanan kepada orang lain di desa
Kaliombo dikenal dengan sebutan “weweh”. Kegiatan seperti ini sudah puluhan
tahun dilaksanakan yaitu setiap setahun sekali menjelang Idhul Fitri. Kegiatan tersebut telah menjadi tradisi maasyarakat setempat.
B. Permasalahan.
Dari latar belakang tersebut,
terdapat beberapa permasalahan antara lain :
1.Bagaimana pandangan masyarakat Kaliombo tentang
weweh ?
2.Apa saja manfaat weweh bagi masyarakat Kaliombo
?
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pandangan masyarakat Kaliombo tentang weweh.
Desa
Kaliombo terletak di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Sebagian besar
masyarakat masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Dan sebagian yang
lain bekerja sebagai buruh pabrik, padagang, wiraswata dan PNS. Seluruh
masyarakat atau penduduk desa Kaliombo beragama Islam. Aktivitas keagamaan di
desa ini berjalan dengan baik. Hal ini ditunjang dengan keberadaan fasilitas
keagamaan seperti Mushola yang berjumlah enam buah, dan sebuah Masjid. Seluruh
aktivitas dan perilaku masyarakat didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma
agama.
Di
desa kaliombo terdapat suatu tradisi masyarakat yang telah berlangsung lama
yang dilaksanakan masyarakat menjelang Idhul Fitri. Tradisi ini dikenal dengan
nama “weweh”yaitu setiap keluarga memberiakn makanan berupa nasi, telur, dan
lauk pauk kepada tetangga dan kerabat. Hampir seluruh masyarakat melakukan
kegiatan tersebut. Sehingga saling terjadi pertukaran barang (makanan) diantara
masyarakat. Ada masyarakat yang bertindak sebagai pemberi dan ada yang sebagai
penerima. Dalam Antropologi Ekonomi kegiatan masyarakat tersebut disebut
resiprositas, yaitu pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok.
Menurut Polanyi (1968:10) resiprositas adalah rasa timbal balik (resiprokal)
sangat besar yang difasilitasi oleh bentuk simetri institusional, ciri utama
organisasi orang-orang yang terpelajar.
Di
masyarakat Kaliombo, tradisi weweh ini dilakukan oleh siapapun, tidak memandang
seseorang itu mempunyai kedudukan atau jabatan, seseorang itu mempunyai
kekayaan dan lain sebagainya. Buruh memberikan makanan (weweh) kepada sang
majikan. Begitu juga sebaliknya seorang majikan memberikan makanan (weweh)
kepada buruh (bawahan). Kegiatan atau tradisi ini dapat berlangsung karena
diantara masyarakat terdapat hubungan simetris. Hubungan simetris yaitu
hubungan sosial, dengan masing-masing pihak menempatkan diri dalam kedudukan
dan peranan yang sama ketika proses pertukaran berlangsung. Masyarakat desa
yang mempunyai karakteristik tersendiri seperti gotong royong, kekeluargaan,
hubungan intim atau hubungan personel yang kuat akan menunjang resiprositas
yang terdapat di masyarakat.
Keberadaan
resiprositas juga ditunjang oleh stuktur masyarakat yang egaliter (Halperin dan
Dow,1978:122), yaitu ditandai oleh
rendahnya tingkat stratifikasi sosial, sedangkan kekuatan politik relative
terdistribusi merata dikalangan warganya. Stuktur masyarakat yang egaliter ini
memberi kemudahan bagi warganya untuk menempatkan diri dalam kategori sosial
yang sama ketika mengadakan kontrak resiprositas. Masyarakat Kaliombo yang
sebagian besar bermatapencaharian sebagiai petani, menunjukkan tingkat ekonomi
masyarakat relative sama. Sehingga stratifikasi sosial di desa Kaliombo rendah.
Tradisi
weweh yang dilakukan oleh masyarakat Kaliombo setiap setahun satu kali ini merupakan
resiprositas yang relativ pendek. Dikatakan pendek karena proses tukar menukar barang
atau jasa dilakukan dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Hal ini
dapat dilihat bahwa tradisi weweh dilaksanakan selam bulan ramadhan dan
mencapai puncaknya pada saat tujuh hari sebelum lebaran. Biasanya ketika suatu
keluarga diberi weweh oleh keluarga lain, maka keluarga tersebut akan membalas
memberikan weweh kepada keluarga yang memberi itu pada saat itu juga ataupun selang
satu atau dua hari sesudahnya.
Masyarakat
Kaliombo memandang tradisi weweh ada beberapa pandangan :
- Bahwa tradisi weweh merupakan bagian dari shodaqoh. Bagi masyarakat Kaliombo yang mayoritas beragama islam, weweh merupakan salah satu bentuk pemberian dari seseorang kepada orang lain. Tujuan utama dari pemberian itu adalah mendapat pahala, bukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan dari orang lain. Hal ini disesuaikan dengan momen (waktu) ramadhan. Dengan berbuat baik kepada orang lain dengan cara memberi akan meringankan beban hidup orang lain.
- Sebagian masyarakat memandang tradisi weweh merupakan resiprositas umum, dimana individu atau kelompok memberikan barang atau jasa kepada individu atau kelompok lain tanpa menentukan batas waktu pengembaliannya. Disini masing-masing pihak percaya bahwa mereka akan saling memberi, dan percaya bahwa barang atau jasa yang diberikan akan dibalas entah kapan waktunya. System resiprositas umum biasanya berlaku dilapangan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dekat (Swartz dan Jordan, 1976 : 477-478). Di Kaliombo weweh diberikan kepada kerabat baik kerabat dekat maupun kerabat jauh yang masih mempunyai hubungan keluarga (genetis). Sedangkan weweh yang diberikan kepada tetangga atau teman itu mempunyai makna simbolik dari hubungan kesetiakawanan atau cinta kasih. Resiprositas yang digunakkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah resiprositas simbolik. Menurut Arnold Rose (dalam buku Ritzer, 2003:54) manusia berada dalam lingkungan simbol-simbol memberikan tanggapan terhadap symbol itu yang berupa fisik. Manusia memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan simbol-simbol secara verbal melalui pemakaian bahasa serta memahami makna dibalik simbol.
- Sebagian masyarakat yang lain memandang tradisi weweh merupakan bentuk resiprositas sebanding. Orang memberikan weweh kepada orang lain mengharapkan balasan dengan barang atau jasa yang sebanding. Seseorang tetap berharap apa yang diberikan kepada orang lain akan kembali lagi. Dengan kata lain individu-individu yang terlibat dalam resiprositas tersebut tidak mau rugi. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa individu-individu atau kelompok-kelompok yang melakukan pertukaran bukan sebagai satu unit sosial, melainkan sebagai unit-unit sosial yang otonom.
Menurut Ritzer, jika seseorang
membutuhkan sesuatu dari orang lain, tetapi tidak dapat memberikan apapun yang
sebanding sebagai tukarannya, maka akan tersedia empat kemungkinan.
1) Orang itu dapat memaksa orang lain untuk
membantunya
2) Orang itu mencari sumber lain untuk
memnuhi kebutuhannya
3) Orang itu terus bergaul dengan baik tanpa
mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari orang lain.
4) Orang itu menundukkan diri terhadap orang
lain dan dengan demikian memberikan orang lain itu penghargaan yang sama dalam
hubungan antar mereka.
2. Manfaat weweh bagi masyarakat desa Kaliombo
Tradisi
weweh yang merupakan bentuk resiprositas yang berada di desa memberikan
beberapa manfaat bagi masyarakat antara lain.
- Weweh merupakan suatu bentuk bantuan dari seseorang kepada orang lain dalam rangka memnuhi kebutuhan hidupnya.
- Weweh merupakan salah satu bentuk sedekah yang akan memberikan manfaat bagi yang memberi dan orang yang diberi.
- Membina solidaritas sosial dan menjamin kebutuhan ekonomi sekaligus mengurangi resiko kehilanag yang dipertukarkan.
- Bagi orang yang memberi weweh, akan meningkatkan status atau kedudukan orang tersebut di masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan.
1. Tradisi weweh merupakan
salah satu bentuk resiprositas
2. Masyarakat kaliombo
memandang weweh sebagai sedekah, resiprositas umum
dan resiprositas
sebanding.
3.Tradisi weweh di desa Kaliombo mempunyai berbagai manfaat bagi
Masyarakat
SIKAP POLITIK KAUM SANTRI NU (Nahdlatul Ulama)
A. LATAR BELAKANG
Pasca-Reformasi 1998, muncul suatu
optimisme baru di kalangan umat Islam akan tampilnya kembali “Islam-politik”
dalam percaturan politik di Indonesia setelah sekian lama semenjak Demokrasi
Terpimpin Sukarno dan Orde Baru Suharto dibungkam. Berbagai kebijakan
memarjinalkan posisi umat dalam ranah politik. Kalaupun diakomodasi melalui partai
resmi (Orde Baru: PPP), posisinya tidak lebih hanya sebagai pelengkap kekuasaan.
Kontrol yang kuat terhadap partai Islam ini seungguhnya tetap menyisakan
marjinalisasi massal terhadap potensi dan kekuatan politik umat.
Kran kebebasan yang dibuka begitu
leluasa pasca-Reformasi telah membukakan jalan lebar bagi kembalinya umat Islam mengaktualisasikan
potensi politiknya. Berbagai partai yang dengan terang-terangan menyebut diri
sebagai “partai Islam” atau mengambil basis massa kelompok-kelompok Islam
seperti Muhammadiyah (PAN) dan Nahdhatul Ulama (PKB) bermunculan. Fenomena itu
terus berlangsung sampai menjelang Pemilu ke-3 pasca-Reformasi yang digelar
tahun 2009 ini.
Setelah kran itu dibuka bagaimana wajah
politik Islam
saat ini? Apakah tradisi-tradisi politik Islam yang
terepresentasikan pada tahun 1955 terulang kembali, semakin
menguat atau semakin menurun?. Secara dukungan suara, Anis Baswedan dalam disertasinya
menyimpulkan bahwa dukungan suara terhadap partai Islam pada Pemilu 1999 dan
2004 tidak banyak berubah dengan dukungan pada Pemilu 1955. Akumulasi dukungan
terhadap partai-partai Islam tetap tidak mengungguli dukungan terhadap
partai-partai berhaluan sekular.
Namun demikian, secara kualitatif
kemunculan partai-partai Islam pasca-reformasi ini sebagian besar tidak lagi
membawa agenda ideologis yang terang-terangan seperti pada Pemilu 1955. Hanya
sebagian kecil partai Islam seperti Partai Bulan Bintang (PBB) yang masih
‘menjual’ kampanye Masyumi masa lalu untuk ditawarkan kepada pemilih Muslim
masa kini. Pada kenyataannya, sebagian besar pemilih Muslim baru ini sudah
tidak legi merespon isu-isu politik Islam lama. Ini menunjukkan sudah terjadi
pergeseran pemikiran dari pemilih. Partai-partai Islam pun kemudian sebagian
besar mengubah kembali paradigma ‘jualan’ mereka dengan mengadaptasi isu-isu
sezaman seperti masalah kesejahteraan rakyat, pengangguran, sembako murah,
pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan sebagaianya. Tampaknya isu-isu
idoelogis yang sangat laku pada era kampanye Pemilu tahun 1955 telah mulai
dihindari. Selain sudah tidak kontekstual, juga sebagian besar pemilih Muslim sudah tidak
menyenanginya.
Selain faktor isu dalam pemilihan,
perubahan kualitatif partai-partai Islam baru ini terlihat pula dalam sikap atau perilaku
politik mereka. Selain penyebutan asas Islam secara eksplisit di dalam konstitusi
partai-partai Islam dan dukungan riil dari kelompok pemilih Muslim, sikap atau perilaku
dan budaya politik partai-partai Islam hampir tidak dapat dibedakan dengan
partai-partai lain yang tidak secara eksplisit menyebut diri mereka sebagai
partai Islam. Dari sisi eksponennya pun tidak sedikit aktivis partai berhaluan
nasionalis dan sekular seperti Golkar dan PDI yang berasal dari keluarga Muslim
taat (baca: santri).
Kebudayaan merupakan
keseluruhan ide, gagasan, tindakan dan hasil karya yang dimiliki oleh
masyarakat yang diperoleh melaui belajar dan dijadikan pedoman hidup oleh
masyarakat (Koentjaraningrat, 1999:156). Salah satu wujud kebudayaan adalah
sikap atau perilaku atau tindakan (sistem social)
Sikap adalah perasaan
seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini
menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif,
negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu. Sikap dapat mengalami perubahan
sebagai akibat dari pengalaman. Tesser (1993) berargumen bahwa faktor bawaan
dapat mempengaruhi sikap tapi secara tidak langsung. Sebagai contoh, bila
seseorang terlahir dengan kecenderungan menjadi ekstrovert, maka sikapnya
terhadap suatu jenis musik akan terpengaruhi. Sikap seseorang juga dapat
berubah akibat bujukan. Hal ini bisa terlihat saat iklan atau kampanye
mempengaruhi seseorang (wikipediaindonesia)
Dengan
banyak bermunculnya partai politik yang mengusung isu-isu agama, kesejahteraan,
kesehatan, pendidikan, dan isu-isu lain seiring dengan perkembangan zaman guna
merebut simpati atau dukungan masyarakat akan menimbulkan keresahan dan
kebimbangan khususnya bagi para santri NU (Nahdlatul Ulama).
B. PERMASALAHAN
Dari latar belakang diatas,
dapat ditarik suatu permasalahan yaitu :
1. Bagaimanakah sikap
atau perilaku politik santri NU (Nahdlatul Ulama)?
C. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Santri
Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebutan
“santri” sebagai suatu unit analisis sosial sangat dipengaruhi oleh publikasi
penelitian Clifford Geertz tentang komunitas Islam di suatu kota yang ia sebut
dengan “Mojokuto.” Publikasi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
titel Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa dari
judul aslinya The Religion of Java
Sebelumnya, istilah santri ini lebih
populer disematkan kepada para pelajar Muslim yang menempuh pendidikan di
“pesantren”. Di pesantren mereka secara khusus ditempa untuk menjadi ahli-ahli
agama. Saat mereka berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendirikan kembali
pesantren atau mengajarkannya kembali kepada masyarakat luas, sebutan untuk
mereka berubah menjadi “kyai”. Alhasil istilah “santri”
pada mulanya digunakan untuk membedakannya dengan “kyai” di suatu pesantren
atau pusat pengajaran agama tradisional masyarakat Jawa.
Menurut Geertz, ada ciri khusus dari santri
pertama berkenaan dengan doktrin pokok Islam (Al-Quran dan
hadis) dan kedua berkenaan dengan persepsi tentang organisasi sosial
(dalam konteks apa mereka menempatkan diri). Dalam hal pertama, doktrin ajaran
Islam adalah pegangan pokok yang harus mereka jalankan dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
Dalam hal kedua,i organisasi sosial mereka persepsikan iman yang membentuk suatu perkauman (Islam). Sebagai individu
Muslim, ia merupakan bagian dari umat Islam di mana pun mereka berada.
Secara lebih singkat dapat diambil
kesimpulan bahwa kelompok “santri” adalah mereka yang menjalankan ajaran-ajaran
dan doktrin-doktrin Islam secara lebih ketat dan taat. Pada Pemilu 1955, secara
kasar dapat dilihat bahwa kelompok santri inilah yang menjadi pendukung setia
partai-partai Islam seperti Masyumi dan NU.
2.
Dasar pemikiran Politik NU
Dasar pemikiran politik NU
terutama dipengaruhi oleh paham keagamaan yang dianutnya, yakni ahlussunnah wal
jamaah. Disamping itu pemikiran politik kalangan ahlussunnah wal jamaah (Sunni)
yang tergabung dalam wadah organisasi NU juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran
al-Mawardi dan al-Ghazali, yang telah dijabarkan dalam teori politik Sunni yang
terdapat lima prinsip yaitu :
1. Prinsip Ketuhanan
Prinsip ketuhanan dalam kehidupan politik merupakan suatu
yang mutlak bagi NU. Dalam bentuk praksisnya, NU tidak membatasi format perwujudan
prinsip ketuhanan tersebut dalam bentuk pemerintahan atau Negara secra khusus.
Bentuk Negara bagi NU, tidak harus berupa kerajaan Islam, atau yang lainnya,
yang penting dalam perjalanan perjalanan Negara haruslah mencerminkan substansi
ajaran Islam. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai universal dari ajaran
Islam seperti keadilan, kemakmuran, kejujujran, maupun kebebasan dalam
menjalankan ibadah dan ritual keagamaan dapat berjalan dengan baik.
2. Prinsip Musyawarah
Teori politik Sunni yang membahas tentang mekanisme
pemerintahan sangat mengedepankan tentang prinsip musyawarah (al-syura).
Misalnya ketika berbicara mengenai pergantian kepemimpinan, maka yang menjadi
dasar paling utama adalah peran rakyat atau ahl syura, walaupun beberapa teori
dalam teori politik Sunni ada yang mengesahkan penunjukan putera mahkota
(ahl’Ahd)
Dalam Muktamar NU ke 30 di Kediri tahun1999, didefinisikan
tentang prinsip musyawarah sebagai pengambilan keputusan dengan
mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan dalam urusan bersama, baik
secara langsung maupun perwakilan. Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat
bahwa NU memegang prinsip bahwa dalam setiap pengambilan keputusan harus
melibatkan seluruh unsure yang ada dalam masyarakat, baik itu dilakukan secara
langsung maupun perwakilan.
c. Prinsip Keadilan
Rais Am PBNU, DR.KH.M.A. Sahal Mahfudh mendefinisikan
keadilan berarti menegakkan kebenaran dan kejujuran, serta belas kasih dan
solidaritas. Menurut Kiai sahal, keadilan mempunyai mempunyai abstraksi yang
sangat luas, sehingga sering terjadi perbedaan ukuran antara pemimpin dan yang
dipimpin dalam memandang tentang keadilan. Pemimpin berpandanagan
bahwakebijakan yang telah diambil telah memenuhi kaidah keadilan, sedangkan
yang dipimpin menganggap kebijakan yang diambil oleh pemimpinnya belum adil.
Dalam hal ini mekanisme musyawarah, dialog yang demokratis dan terbuka antara
keduanya merupakan salah satu cara untuk mencari penyelesaian, dengan
berpedoman pada standarisasi keadilan yang telah disepakati dan ditetapkan
Undang-Undang.
d. Prinsip Kebebasan
Prinsip kebebasan bagi NU diartikan sebagai suatu jaminan
bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik,
bertanggung jawab dan perilaku yang mulia (al-akhlaq al-karimah).
e. Prinsip Kesetaraan
NU memiliki pandangan
yang inklusif dan substantive terhadap realitas masyarakat Indonesia yang
plural. Bagi NU, keragaman suku, ras, agama, budaya maupun perbedaan pendapat
dan golongan merupakan suatu keniscayaan. Pluralitas dalam kehidupan di dunia
merupakan rahmat yang harus dihadapi dengan sikap membuka diri, saling
menghormati dan menjalin kerja sama dengan menghilangkan sikap eksklusif.
Prinsip kesetaraan menurut NU adalah suatu pandangan bahwa
setiap orang atau individu mempunyai kedudukan yang sama tanpa adanya
diskriminasi karena kesukuan, ras, agama, jenis kelamin, kedudukan, kelas
social, dan lain-lain (Setiawan, 2007:105)
3. Politik yang
dijalankan NU
Menurut Mustasyar PBNU, K.H.Ahmad Mustofa Bisri, setidaknya
ada 3 jenis politik dalam pemahaman NU, yakni politik kebangsaan, politik
kerakyatan, dan politik kekuasaan. NU sejak berdiri memang melakukan aktivitas
politik, terutama dalam pengertian yang pertama, yakni politik kebangsaan,
karena NU sangat berkepentingan dengan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Dalam sejarah perjalanan Indonesia tercatat bahwa NU selalu
memperjuangkan keutuhan NKRI. Selain dilandasi oleh nilai-nilai keislaman,
kebijakan-kebijakan yang diambil NU juga didasari oleh nilai-nilai keIndonesiaan
dan semangat nasionalisme yang tinggi.
Politik jenis yang kedua yang dijalankan oleh NU yaitu
politik kerakyatan. Politik kerakyatan bagi NU sebenarnya adalah implementasi
dari prinsip amar ma’ruf nahi munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kejelekan)
yang ditujukan pada penguasa untuk membela rakyat. Hal itulah yang kemudian
diambil alih oleh generasi muda NU melalui LSM-LSM, ketika mereka melihat NU
secara structural kurang peduli terhadap permasalahan yang menyangkut rakyat
keci.
NU juga menjalankan politik ketiga, yakni politik kekuasaan
atau yang lazim disebut politik praktis. Politik kekuasaan merupakan jenis
politik yang paling banyak menarik perhatian orang NU. Dalam catatan sejarah,
terlihat bahwa NU pernah mendapatkan kesuksesan dalam pemilu pertama di
Indonesia pada tahun 1955. Pada saat itu, dalam waktu persiapan yang relative
pendek, partai NU yang baru keluar dari Masyumi dapat menduduki peringkat
ketiga setelah PNI dan Masyumi yang sangat siap waktu itu. Sejak saat itu
banyak tokoh NU yang terjun ke dunia politik praktis. Hal ini membawa dampak
negative pada aktivitas penting NU lainnya seperti dalam bidang pendidikan,
ekonomi, social, dan dakwah.
4. Sikap Politik Kaum Santri
Perilaku politik atau
(Inggris:Politic Behaviour)adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu
atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Seorang
individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya
guna melakukan perilaku politik.
Pada masa kolonial, kelompok santri
berperan sebagai trigger unntuk menggalang kekuatan massa menentang
penguasaan kolonial. Berbagai pemberontakan, terutama sepanjang abad ke-19,
yang terjadi di berbagai daerah konsolidasi kekuatannya dilakukan oleh kelompok
santri. Dalam hal ini, peran tokoh pemimpin kelompok ini yang sering disebut
“kyai” sangat sentral. Budaya ketaatan penuh pada kyai yang dibangun di
pesantren-pesantren atau yang dilembagakan dalam tarekat-tarekat sufi
memberikan jalan mulus bagi peran kepemimpinan kyai dalam kelompok ini.
Beberapa pemberontakan seperti yang terjadi di Banten tahun 1881, Perang Paderi
di Sumatera Barat, Perang Diponegoro tahun 1825-1830, dan sebagainya adalah
perang-perang yang mencatat peran penting kelompok ini.
Pada masa Kebangkitan Nasional paruh
pertama abad ke-20 kelompok ini bertransformasi menjadi organisasi-organisasi
keagamaan. Sebagian masih melanggengkan pengaruh dan kepemimpinan kyai seperti
yang terlihat dalam organisasi Nahdhatul Ulama. Sebagian lain kepemimpinannya
mulai mencair pada model kepemimpinan rasional. Tokoh tercipta karena
peran-peran startegisnya bagi pergerakan, bukan karena legitimasi
tradisionalnya sebagai kiai. Model kedua ini terlihat jelas pada Muhammadiyah.
Para pengamat kemudian mendikotomi kedua varian ini sebagai kelompok modernis
(Muhammadiyah) dan tradisional (NU).
Saat pembentukan PPKI dan BPUPKI
sebagai cikal bakal berdirinya Republik Indonesia, representasi kaum santri
yang mewakili semua kalangan, baik kelompok modernis maupun tradisionalis,
terlihat cukup dominan di samping kelompok-kelompok lain yang sering disebut
sebagai kaum nasionalis atau “kebangsaan”. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945 menjadi tonggak arah dan orientasi baru kelompok santri. Kali ini
mereka ikut menjadi penentu perjelanan politik bangsa ini.
Perdebatan-perdebatan di Konstituante menjadi monumen sejarah yang mengabadikan
peran penting kaum santri dalam merancang bangsa ini ke depan.
Walaupun peran kelompok santri ini
cukup penting di dalam perumusan format kenegaraan Indonesia pada masa awal
kemerdekaan, posisi marginal masih tetap dirasakan kelompok ini. Pasalnya, saat
berbicara masalah politik pemerintahan, sangat sedikit kalangan santri yang
menguasai penyelenggaraan birokrasi model Barat. Kebutuhan akan dukungan kelas
menengah teknokrat bagi terselenggaranya berbagai program dan target pemerintah
membuat posisi kelompok santri semakin menciut. Kelompok santri yang sebagian
besar berlatar pendidikan keagamaan tradisional (baca: pesantren) tidak bisa
berbuat apa-apa ketika ditantang harus menyelenggarakan pemerintahan secara
profesional. Inilah yang menjadi penyebab utama posisi politik kaum santri
kembali termarginalkan, padahal sebelumnya secara politik mereka sudah
memberikan saham besar bagi berdirinya negara ini.
.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar
Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta
Koentaraningrat. 2007. Sejarah
Teori Antropologi II. Jakarta : UI
Press.
Setiawan Zudi. 2007. Nasionalisme
NU. Semarang : CV. Aneka Imu
(http://www.wikipediaindonesia.com)
SIMBOLISME BANGUNAN KRATON YOGYAKARTA
Sabtu,
25 April 2009 keluarga besar Sosiologi antropologi khususnya semester 6 melakukan
studi lapangan ke Yogyakarta. Studi lapangan ini dilakukan berkaitan dengan
mata kuliah bentang sosial budaya, religi dan etika jawa dan struktur
masyarakat jawa. Ada tiga obyek yang dituju yaitu Kraton Yogyakarta, Panggung
Krapyak dan Makam Imogiri. Dalam pemaparan saya kali ini, saya lebih memfokuskan
pada mata kuliah struktur masyarakat jawa. Dimana saya akan mengamati bangunan
kraton yogyakarta sebagai manifestasi dari kebudayaan jawa.
Orang jawa dalam kehidupan
sehari-harinya penuh dengan simbol-simbol. Simbol tersebut dapat berupa tanda,
warna, bangunan dan lain sebagainya. Bangunan kraton merupakan salah satu
simbol kebudayaan jawa. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah makna
simbolik dari bangunan kraton Yogyakrata? dan apakah ada hubungan antara makna
simbolik bangunan kraton dengan stuktur sosial di kraton Yogyakarta?
Kraton Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono 1 pada tahun 1756. Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata
ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas,
diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton
mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni
Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia
setelah mati).Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan
hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat
garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis.
Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam
fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan
dalam pandangan Jawa). Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai
lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani. Kraton Yogyakarta
mempunyai peranan yang sangat penting sebagai faktor penentu dalam dinamika
kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kraton Yogyakarta menghadap ke arah Utara,
pada arah poros Utara Selatan antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, dengan
halaman depan berupa Alun-alun (lapangan) yang dimasa lalu dipergunakan sebagai
tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat
penyelenggaraan upacara adat. Di bagian tengah alun-alun lor terdapat dua pohon
beringin yang dikelilingi tembok, yang disebut beringin kurung (waringin
kurung). Dua pohon beringin yang terletak bersebelahan itu, masing-masing
bernama kyai Dewadaru (sebelah barat), bibitnya berasal dari Majapahit dan kyai
Wijayadaru (sebelah timur) yang bibitnya berasal dari Pajajaran. Dua pohon
beringin itu sebgai simbol bahwa didunia ini terdapat dua sifat berbeda yang
saling bertentangan (dualisme). Sedangkan pohon beringin yang mengelilingi
alun-alun lor ini jumlahnya 62 pohon, serta ditambah dengan 2 beringin yang
berada ditengah, sehingga jumlah seluruhnya menjadi 64 pohon beringin. Jumlah
64 menunjukkan usia nabi Muhammad SAW ketika beliau wafat (menurut perhitungan
tahun jawa). Sistem klasifikasi simbolik orang jawa didasarkan pada dua, tiga,
lima, dan Sembilan kategori. System yang didasarkan pada dua kategori dikaitkan oleh orang-orang
jawa dengan hal-hal yang berlawanan,yang bermusuhan atau yang saling
butuh-membutuhkan dan teutama didasarkan pada perbedaan antara orang serta
hal-hal yang tinggi (inggil) dan yang rendah kedudukannya (andhap), perbedaan
antara orang dan hal-hal yang asing, jauh, formal (tebih), serta yang biasa,
dekat dan informal (celak); perbedaan antara orang dan hal-hal yang berada di
sebelah kanan (panengan) dengan yang ada di sebelah kiri (pangiwa); perbedaan
antara orang dan hal-hal yang suci dan profan;dan akhirnya perbedaan antara
orang dan hal-hal yang halus(alus) dan yang kasar
Deskripsi diatas menjelaskan bahwa bangunan kraton
mempunyai arti tersendiri yang menggambarkan adanya struktur sosial dikraton.
Untuk memahami lebih dalam tentang struktur sosial yang terdapat dikraton Yogyakarta,
ada beberapa istilah yang menyertainya diantaranya yaitu, system sosial,
stratifikasi sosial, kelas sosial,dan struktur
sosial.
Sistem sosial adalah suatu jaringan dimana
bagian-bagian/elemen-elemen jaringan tersebut saling pengaruh mempengaruhi
secara deterministik.” Keharmonisan
dalam sistem sosial didasarkan pada pranata sosial, sistem yang mengatur
interaksi yang mengintergrasikan pola perilaku dan komunikasi agar masyarakat
dapat hidup tentram dan harmonis. Dalam
masyarakat Jawa sistem sosial dapat dilihat dari pembagian stratifikasi sosial
dan pola sikap anggota masyarakat.
Stratifikasi sosial adalah penggolongan anggota masyarakat
ke dalam kelas-kelas yang didasarkan pada karakteristik tertentu. Menurut Max
Weber, stratifikasi sosial didasarkan pada dimensi ekonomi, sosial dan politik.
Maka dari itu masyarakat terbagi menjadi kelas (secara ekonomi), kelompok
status (sosial) dan partai (politik). Weber juga menambahkan bahwa dimensi
ekonomi adalah dimensi penentu bagi dimensi lainnya.
Pengertian kelas adalah kesetaraan kemampuan ekonomi
orang-orang dalam suatu kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup dan statusnya.
Semakin tinggi kemampuan ekonomi suatu kelas untuk memiliki jasa, benda dan
lain-lain berarti semakin tinggi kelasnya dalam masyarakat. Kelas menengah ke
bawah memiliki kemampuan ekonomi yang terbatas untuk mendapatkan kemewahan
selayaknya kelas atas. Hal ini kemudian menjadikan masyarakat terbagi dalam
tingkatan-tingkatan social.
Struktur Sosial, struktur yang mewarnai suatu
masyarakat tradisional berintikan kekerabatan, kesukuan, atau keagamaan.
Struktur yang bersifat primordial itu tertutup bagi yang lain di luar
hubungan-hubungan itu dan tidak bersifat sukarela. Dalam masyarakat
modern,struktur sosial bersifat terbuka dan bersifat sukarela. Jadi, yang
berkembang dan menjadi tiang-tiang masyarakat adalah organisasi politik,
organisasi ekonomi, organisasi sosial, termasuk organisasi profesional dan
fungsional.
Talcot Parson menilai struktur sebagai
kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem social. Pembahasan mengenai
struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan
peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran
adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton, seseorang menjalankan
peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya.
Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi
status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved
status).
Status yang diperoleh adalah status yang diberikan
kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang
dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status
yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada
individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha
pribadi.
Yogyakarta
sebagai daerah istimewa yang dulunya merupakan suatu wilayah kerajaan yang
kemudian masuk dan menyatu dalam kesatuan wilayah RI, seperti wilayah kerajaan
pada umumnya, kerajaan yogyakarta atau yang umumnya disebut kasultanan
yogyakarta dipimpim oleh seorang raja yang disebut dengan gelarnya adalah SRI
SULTAN HAMANGKUBUWONO.
Dalam struktur social dalam wilayah kerajaan tentu
saja Raja menempati tingkatan tertinggi dalam struktur social masyarakatnya,
begitulah struktur social yang ada di yogyakarta SRI SULTAN HAMANGKUBUWONO menempati
posisi tertinggi sebagai orang yang berkuasa dan paling di hormati di
yogyakarta. Gelar Sri Sultan HB merupakan gelar yang diperoleh (ascribed
status) secara turun temurun. Untuk
gelar yang berada dibawahnya ditempai oleh orang- orang yang ada di dalam birokrasi
pemerintah kerajaan seperti patih dan mereka yang masuk dalam tatanan
kasultanan serta mereka yang masih kerabat Raja serta abdidalem. Warga kraton
sangat menghormati dan menghargai raja mereka. Mereka sangat mengagungkan raja
mereka dalam segala hal. Mereka tidak berani untuk menantang raja mereka,
bahkan untuk sekedar menatap mata atau berpandangan langsung dengan raja mereka
anggap itu adalah hal yang sangat tidak pantas dilakukan karena itu berarti
mereka menantang raja mereka. Bila mereka akan menghadap raja mereka, dilakukan
dengan laku ndodok. Dalam lingkungan kraton pakaian yang mereka kenakan juga
sesuai dengan tingkatannya, kemudian ada sebagian dari para abdi dalem yang
tidak memakai alas kaki, karena menurut mitos bahwa pasir yang ada dalam
lingkunan kraton adalah pasir dari pantai selatan yang merupakan istana dari
kanjeng ratu Nyi loro kidul, sehingga untuk menghormati keberadaannya maka
mereka tidak memakai als kaki bila berjalan di atas pasir tersebut. Laku ndodok
ini tidak hanya dilakukan jika mereka menghadap langsung kepada raja mereka,
hal ini juga mereka lakukan bila mereka menghadap atau berziarah ke makam-makam
para raja yang telah mangkat terlebih dahulu. Hal itu mereka lakukan karena
mereka sangat menghormati raja mereka. Kemudian selain tempat itu mungkin ada
lagi tempat-tempat yang lain. Tapi setahu saya keraton juga merupakan tempat
yang sangat disakralkan oleh masyarakat Yogyakarta, bagi para abdi dalem
menghormati keraton sama halnya dengan menghormati raja mereka.
Para abdi dalem
merupakan orang-orang yang mengabdi pada raja Yogyakarta dan keraton. Dari
sekilas wawancara dengan salah satu abdi dalem, beliau menyebut bahwa ada
struktur para abdi dalem yaitu:
1.
Magang
2.
Jajar
3.
Lurah
4.
Bekel
Selain para abdi dalem ada juga para prajurit yaitu:
1.
Prajurit Wirobrojo
2.
Prajurit Ketanggung
3.
Prajurit Patang puluh
4.
Prajurit Gaeng
5.
Prajurit Bugis
6.
Prajurit Mantri Anom
7.
Prajurit Surokarso
8.
Prajurit Nyotro
9.
Prajurit Njogokaryo
10. Prajurit
Prawitokarso
Prajurit keraton yang dahulu benar-benar berfungsi
sebagai militer, penjaga keamanan dan keselamatan nagari. Seiring perputaran
jaman, kini lebih berperan sebagai ‘pelengkap’ ritus adat tradisi peristiwa
budaya yang terjadi di dalam keraton itu sendiri. Seperti sebagai anggota
marching band dalam upacara dalam keraton.
Di keraton itu
sendiri terdapat tempat-tempat yang mungkin juga dapat dijadikan sebagai tolok
ukur bahwa di dalam keraton ada stratifikasi berdasarkan jabatan yang di
pegang, misalnya:
1.
Bangsal Pekapalan yaitu
tempat bermalam senopati perang.
2.
Bangsal Pemandengan
adalah tempat duduk raja ketika ada upacara gladi bersih di alun-alun.
3.
Bangsal Palikeran
adalah bangsal para abdi dalem.
4.
Bangsal Kori adalah tempat untuk berjaga dan mernagkap juga tempat para
abdi dalem.
Seperti halnya
bahasa jawa umumnya, bahasa yang digunakan dalam kehidupan di keraton juga
terdapat stratifikasinya yang terdiri dari bahasa krama ingil, krama madya,
krama alus, ngoko alus, ngoko madya, ngoko biasa. Menurut sepengetahuan saya
penggunaan bahasa tersebut antara lain, bahasa krama inggil dipakai oleh para
bawahan kepada raja, kemudian krama madya adalah oleh sesama kerabat kerajaaan,
krama alus oleh sesama pejabat kerajaan.
Inti dari struktur masyarakat di Kraton Yogyakarta
adalah Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai pemimpin di dalam keraton Yogyakarta
dan juga sebagi pemimpin atau Sultan di Keraton Yogyakarta. Kraton Yogyakarta
memanglah bangunan tua, pernah rusak dan dipugar. Dilihat sekilas seperti bangunan
Kraton umumnya. Namun jika kita dapat mengamatinya dengan seksama terdapat
makna simbolis, sebuah filosofi kehidupan, hakikat seorang manusia, bagaimana
alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya dan berbagai perlambangan
eksistensi kehidupan terpendam di dalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)


