Rabu, 26 September 2012

Eksotisme Pantai Bandengan dimata Luthfi


Apa yang terlintas dipikiran Anda ketika mendengar Kota Jepara?pasti anda menjawab Kota Ukir, ya....jawaban  itu tidak salah, kemudian pantai apa saja yang terdapat di Jepara? Pantai Kartini, Pantai Pantai Mororejo, Pantai Pailus, Pantai Bondo, teluk awur, dan Pantai Bandengan. Pantai yang terakhir ini memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, ya...nama Pantai Bandengan telah akrab ditelinga masyarakat Jepara  dan daerah sekitarnya, bahkan sampai terdengar keluar kota. Pantai Bandengan pertama kali diberikan oleh putra Sunan Muria yaitu Amir Hasan saat akan berpergian mengembangkan ilmu agama ke Kepulauan Karimunjawa. Ketika sampai di pantai ini, mereka menemukan banyak Ikan Bandeng sehingga wilayah itu dinamakan Desa Bandengan. Pantai yang ada di desa tersebut akhirnya dinamakan Pantai Bandengan.  Anda dapat menikmati panorama pantai yang jernih dan berpasir putih. Selain itu, Anda juga dapat menikmati rimbunnya pepohonan pandan atau pohon perdu di sepanjang pesisir Pantai Bandengan Jepara atau yang dikenal juga sebagai Pantai Tirta Samudera. Pantai Bandengan memiliki struktur pantai yang landai dan air yang jernih dan bersih. Karena itu pantai ini cocok untuk menjadi tempat wisata pantai seperti berenang, bermain voli pantai, berperahu, atau sekadar bersepeda di pinggir pantai.
Selain itu, kondisi pantai utara Jawa relatif tenang membuat pantai ini relatif aman untuk menikmati permainan di pinggir laut maupun berenang. Bahkan pada saat Anda mencelupkan diri ke air laut yang bening, Anda dapat melihat ikan-ikan kecil sedang berlarian di dasar air laut.
Pantai Bandengan sering dikunjungi karena suasana alamnya yang unik. Anda dapat menemukan suasana pantai pasir putih yang luas. Kemudian Anda juga dapat menikmati keindahan air laut yang jernih. Serta yang menarik adalah hamparan pepohonan yang rimbun dan hijau di sekitar pantai. Tentu ini membuat suasana di Pantai Bandengan begitu sejuk dan nyaman. Keindahan pantai di sini mampu menyaingi keindahan pantai di Bali.
Anda juga dapat mengunjungi pulau di tengah laut dari Pantai Bandengan. Pulau yang dapat Anda kunjungi dari sini yaitu Pulau Panjang. Di pulau ini Anda dapat menyaksikan kekayaan alam yang indah yaitu flora dan fauna yang menarik. Anda dapat mengunjungi pulau ini dengan biaya yang relatif murah. Anda juga dapat berkeliling pantai dengan menyewa perahu atau kapal yang siap mengajak Anda berkeliling pantai sambil menikmati keindahan alam di Pantai Bandengan.
Seusai menikmati berbagai permainan yang menyenangkan di Pantai Bandengan hingga menjelang senja, tibalah saatnya Anda menikmati pertunjukkan yang memukau di pantai ini. Ini adalah pertunjukkan alam yang menakjubkan, yaitu proses terbenamnya matahari atau sunset. Anda dapat mengagumi keindahan matahari saat menuju perhentiannya di senja hari. Pantulan cahaya matahari yang meredup terlihat di air laut dengan ombak yang tenang di Pantai Bandengan ini. Momen seperti ini sering diabadikan oleh para fotografer yang kebetulan mampir di Pantai Bandengan Jepara.
Anda juga dapat menikmati panorama matahari terbenam atau sunset ini sambil menikmati makanan yang disajikan di restoran yang ada di bibir Pantai Bandengan.Kalau budget anda kurang untuk mengcover menu makanan yang ada di restoran anda bisa ke warung Bu Gipah yang harganya pas untuk kantong saudara. disitu disajikan menu masakan yang tidak kalah rasanya dibandingkan dengan menu direstoran.
Obyek wisata Pantai Bandengan tidak sulit untuk dikunjungi. Pemerintah Kabupaten Jepara telah menyediakan fasilitas jalan yang baik serta transportasi yang mudah menuju obyek wisata Pantai Bandengan. Jadi, jika Anda sedang berada di Jawa Tengah, tidak ada salahnya Anda mampir ke Jepara. Sambil melihat keindahan ukiran khas Jepara, Anda juga dapat mampir ke obyek wisata andalan Kabupaten Jepara yaitu Pantai Bandengan atau yang juga dikenal sebagai Pantai Tirta Samudera.

Selasa, 25 September 2012

Luthfi at PARIS VAN JOGJA

Luthfi and friend (Alumni SDN Kaliombo Angkatan 1994) menghabiskan liburan ke Jogjakarta. Setelah lama menempuh perjalan dari Jepara ke Jogjakarta akhirnya penantian kita pun terbyar lunas ketika sampai di tempat tujuan. Malioboro, dan Keraton menjadi menu pertama plesiran kali ini. dan yang terakhir tentunya adalan pantai Parangtritis. Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.
. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.
Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort mewah yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas.
Setelah  lelah jalan-jalan disekitar pantai kita pun asyik menyantap makan dan minuman disana, salah satunya yaitu WEDANG RONDE yang semakin nikmat ketika diminum saat cuaca dingin.acara foto-foto juga tidak dillewatkan oleh Luthfi CS karena foto merupakan suatu bukti otentik kalu kita telah melalukan suatu kegiatan.
Sore pun menjelang ketika matahari sudah condong ke barat dan cuaca cerah, tibalah saatnya untuk bersenang-senang. Meskipun pengunjung dilarang berenang, Pantai Parangtritis tidak kekurangan sarana untuk having fun. Di pinggir pantai ada persewaan ATV (All-terrain Vechile), tarifnya sekitar Rp. 50.000 - 100.000 per setengah jam. Masukkan persneling-nya lalu lepas kopling sambil menarik gas. Brrrrooom, motor segala medan beroda 4 ini akan melesat membawa Anda melintasi gundukan pasir pantai.
Baiklah, ATV mungkin hanya cocok untuk mereka yang berjiwa petualang. Pilihan lain adalah bendi. Menyusuri permukaan pasir yang mulus disapu ombak dengan kereta kuda beroda 2 ini tak kalah menyenangkan. Bendi akan membawa kita ke ujung timur Pantai Parangtritis tempat gugusan karang begitu indah sehingga sering dijadikan spot pemotretan foto pre-wedding. Senja yang remang-remang dan bayangan matahari berwarna keemasan di permukaan air semakin membangkitkan suasana romantis.
Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Bermain layang-layang bersama si kecil juga tak kalah menyenangkan. Angin laut yang kencang sangat membantu membuat layang-layang terbang tinggi, bahkan bila Anda belum pernah bermain layang-layang sekalipun.
Masih enggan untuk pulang walau matahari sudah terbenam? Tak lama lagi beberapa penjual jagung bakar akan menggelar tikar di pinggir pantai, kita bisa nongkrong di sana hingga larut malam. Masih juga belum mau pulang? Jangan khawatir, di Pantai Parangtritis tersedia puluhan losmen dan penginapan dengan harga yang terjangkau.

Senin, 24 September 2012

Tradisi "WEWEH" di Desa Kaliombo, Pecangaan, Jepara


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar belakang
Idhul Fitri merupakan hari raya bagi umat islam. Dan merupakan hari kemenangan, kemenangan dari hawa nafsu setelah kita melaksanakan puasa ramadhan. Sebelum merayakan hari kemenangan, kita melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Di bulan yang penuh berkah ini, kita hendaknya memperbanyak amal shaleh seperti saling berbagi, saling membantu, dan saling memberi.
Di desa Kaliombo, masyarakat sangat antusias menyambut hari raya Idhul Fitri. Sebelum hari raya Idhul Fitri tiba, masyarakat telah mempersipakan segala kebutuhan yang berkaitan dengan Idhul Fitri seperti makanan, kue, pakaian dan lain-lain. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga memerlukan bantuan orang lain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannya. Masyarakat Kaliombo yang terdiri dari individu-individu yang berbeda latar belakang sosial dan ekonominya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga saling ketergantungan satu sama lain. Menjelang Idhul Fitri, kebutuhan seseorang akan meningkat dan mendesak untuk segera dipenuhi. Untuk menghadapi keadaan seperti ini setiap individu saling membantu satu dengan yang lain dengan cara pertukaran. Menurut Cook (1973:823) pertukaran merupakan konsep yang berhubungan dengan sosok-sosok tentang pengubahan barang atau jasa tertentu dari individu-individu atau kelompok-kelompok, dan pengubahan ini dilakukan dengan cara memindahkan barang atau jasa kepada individu-individu atau kelompok-kelompok lain guna mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan. Sehingga di desa Kaliombo satu minggu sebelum Idhul fitri, Ibu-Ibu memasak masakan yang akan diberikan kepada kerabat dan tetangganya. Masakan tersebut didalamnya terdapat nasi, telur, sayuran dan lain-lain. Kegiatan membagi-bagikan atau memberikan makanan kepada orang lain di desa Kaliombo dikenal dengan sebutan “weweh”. Kegiatan seperti ini sudah puluhan tahun dilaksanakan yaitu setiap setahun sekali menjelang Idhul Fitri. Kegiatan tersebut telah menjadi tradisi maasyarakat setempat.
B. Permasalahan.
Dari latar belakang tersebut, terdapat beberapa permasalahan antara lain :
1.Bagaimana pandangan masyarakat Kaliombo tentang weweh ?
2.Apa saja manfaat weweh bagi masyarakat Kaliombo ?


BAB II
PEMBAHASAN

1.Pandangan masyarakat Kaliombo tentang weweh.
            Desa Kaliombo terletak di Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Sebagian besar masyarakat masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Dan sebagian yang lain bekerja sebagai buruh pabrik, padagang, wiraswata dan PNS. Seluruh masyarakat atau penduduk desa Kaliombo beragama Islam. Aktivitas keagamaan di desa ini berjalan dengan baik. Hal ini ditunjang dengan keberadaan fasilitas keagamaan seperti Mushola yang berjumlah enam buah, dan sebuah Masjid. Seluruh aktivitas dan perilaku masyarakat didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma agama.
            Di desa kaliombo terdapat suatu tradisi masyarakat yang telah berlangsung lama yang dilaksanakan masyarakat menjelang Idhul Fitri. Tradisi ini dikenal dengan nama “weweh”yaitu setiap keluarga memberiakn makanan berupa nasi, telur, dan lauk pauk kepada tetangga dan kerabat. Hampir seluruh masyarakat melakukan kegiatan tersebut. Sehingga saling terjadi pertukaran barang (makanan) diantara masyarakat. Ada masyarakat yang bertindak sebagai pemberi dan ada yang sebagai penerima. Dalam Antropologi Ekonomi kegiatan masyarakat tersebut disebut resiprositas, yaitu pertukaran timbal balik antar individu atau antar kelompok. Menurut Polanyi (1968:10) resiprositas adalah rasa timbal balik (resiprokal) sangat besar yang difasilitasi oleh bentuk simetri institusional, ciri utama organisasi orang-orang yang terpelajar.
            Di masyarakat Kaliombo, tradisi weweh ini dilakukan oleh siapapun, tidak memandang seseorang itu mempunyai kedudukan atau jabatan, seseorang itu mempunyai kekayaan dan lain sebagainya. Buruh memberikan makanan (weweh) kepada sang majikan. Begitu juga sebaliknya seorang majikan memberikan makanan (weweh) kepada buruh (bawahan). Kegiatan atau tradisi ini dapat berlangsung karena diantara masyarakat terdapat hubungan simetris. Hubungan simetris yaitu hubungan sosial, dengan masing-masing pihak menempatkan diri dalam kedudukan dan peranan yang sama ketika proses pertukaran berlangsung. Masyarakat desa yang mempunyai karakteristik tersendiri seperti gotong royong, kekeluargaan, hubungan intim atau hubungan personel yang kuat akan menunjang resiprositas yang terdapat di masyarakat.
            Keberadaan resiprositas juga ditunjang oleh stuktur masyarakat yang egaliter (Halperin dan Dow,1978:122), yaitu  ditandai oleh rendahnya tingkat stratifikasi sosial, sedangkan kekuatan politik relative terdistribusi merata dikalangan warganya. Stuktur masyarakat yang egaliter ini memberi kemudahan bagi warganya untuk menempatkan diri dalam kategori sosial yang sama ketika mengadakan kontrak resiprositas. Masyarakat Kaliombo yang sebagian besar bermatapencaharian sebagiai petani, menunjukkan tingkat ekonomi masyarakat relative sama. Sehingga stratifikasi sosial di desa Kaliombo rendah.
            Tradisi weweh yang dilakukan oleh masyarakat Kaliombo setiap setahun satu kali ini merupakan resiprositas yang relativ pendek. Dikatakan pendek karena proses tukar menukar barang atau jasa dilakukan dalam jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. Hal ini dapat dilihat bahwa tradisi weweh dilaksanakan selam bulan ramadhan dan mencapai puncaknya pada saat tujuh hari sebelum lebaran. Biasanya ketika suatu keluarga diberi weweh oleh keluarga lain, maka keluarga tersebut akan membalas memberikan weweh kepada keluarga yang memberi itu pada saat itu juga ataupun selang satu atau dua hari sesudahnya.
            Masyarakat Kaliombo memandang tradisi weweh ada beberapa pandangan :
  1. Bahwa tradisi weweh merupakan bagian dari shodaqoh. Bagi masyarakat Kaliombo yang mayoritas beragama islam, weweh merupakan salah satu bentuk pemberian dari seseorang kepada orang lain. Tujuan utama dari pemberian itu adalah mendapat pahala, bukan untuk mendapatkan penghargaan atau sanjungan dari orang lain. Hal ini disesuaikan dengan momen (waktu) ramadhan. Dengan berbuat baik kepada orang lain dengan cara memberi akan meringankan beban hidup orang lain.
  2. Sebagian masyarakat memandang tradisi weweh merupakan resiprositas umum, dimana individu atau kelompok memberikan barang atau jasa kepada individu atau kelompok lain tanpa menentukan batas waktu pengembaliannya. Disini masing-masing pihak percaya bahwa mereka akan saling memberi, dan percaya bahwa barang atau jasa yang diberikan akan dibalas entah kapan waktunya. System resiprositas umum biasanya berlaku dilapangan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat dekat (Swartz dan Jordan, 1976 : 477-478). Di Kaliombo weweh diberikan kepada kerabat baik kerabat dekat maupun kerabat jauh yang masih mempunyai hubungan keluarga (genetis). Sedangkan weweh yang diberikan kepada tetangga atau teman itu mempunyai makna simbolik dari hubungan kesetiakawanan atau cinta kasih. Resiprositas yang digunakkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah resiprositas simbolik. Menurut Arnold Rose (dalam buku Ritzer, 2003:54) manusia berada dalam lingkungan simbol-simbol memberikan tanggapan terhadap symbol itu yang berupa fisik. Manusia memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan simbol-simbol secara verbal melalui pemakaian bahasa serta memahami makna dibalik simbol.
  3. Sebagian masyarakat yang lain memandang tradisi weweh merupakan bentuk resiprositas sebanding. Orang memberikan weweh kepada orang lain mengharapkan balasan dengan barang atau jasa yang sebanding. Seseorang tetap berharap apa yang diberikan kepada orang lain akan kembali lagi. Dengan kata lain individu-individu yang terlibat dalam resiprositas tersebut tidak mau rugi. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa individu-individu atau kelompok-kelompok yang melakukan pertukaran bukan sebagai satu unit sosial, melainkan sebagai unit-unit sosial yang otonom.
Menurut Ritzer, jika seseorang membutuhkan sesuatu dari orang lain, tetapi tidak dapat memberikan apapun yang sebanding sebagai tukarannya, maka akan tersedia empat kemungkinan.
1)      Orang itu dapat memaksa orang lain untuk membantunya
2)      Orang itu mencari sumber lain untuk memnuhi kebutuhannya
3)      Orang itu terus bergaul dengan baik tanpa mendapatkan apa yang dibutuhkannya dari orang lain.
4)      Orang itu menundukkan diri terhadap orang lain dan dengan demikian memberikan orang lain itu penghargaan yang sama dalam hubungan antar mereka.





2. Manfaat weweh bagi masyarakat desa Kaliombo
            Tradisi weweh yang merupakan bentuk resiprositas yang berada di desa memberikan beberapa manfaat bagi masyarakat antara lain.
  1. Weweh merupakan suatu bentuk bantuan dari seseorang kepada orang lain dalam rangka memnuhi kebutuhan hidupnya.
  2. Weweh merupakan salah satu bentuk sedekah yang akan memberikan manfaat bagi yang memberi dan orang yang diberi.
  3. Membina solidaritas sosial dan menjamin kebutuhan ekonomi sekaligus mengurangi resiko kehilanag yang dipertukarkan.
  4. Bagi orang yang memberi weweh, akan meningkatkan status atau kedudukan orang tersebut di masyarakat. 

BAB III
 PENUTUP


A. Kesimpulan.
            1. Tradisi weweh merupakan salah satu bentuk resiprositas
            2. Masyarakat kaliombo memandang weweh sebagai sedekah, resiprositas umum
                dan resiprositas sebanding.
      3.Tradisi weweh di desa Kaliombo mempunyai berbagai manfaat bagi
               Masyarakat

SIKAP POLITIK KAUM SANTRI NU (Nahdlatul Ulama)


A. LATAR BELAKANG 
Pasca-Reformasi 1998, muncul suatu optimisme baru di kalangan umat Islam akan tampilnya kembali “Islam-politik” dalam percaturan politik di Indonesia setelah sekian lama semenjak Demokrasi Terpimpin Sukarno dan Orde Baru Suharto dibungkam. Berbagai kebijakan memarjinalkan posisi umat dalam ranah politik. Kalaupun diakomodasi melalui partai resmi (Orde Baru: PPP), posisinya tidak lebih hanya sebagai pelengkap kekuasaan. Kontrol yang kuat terhadap partai Islam ini seungguhnya tetap menyisakan marjinalisasi massal terhadap potensi dan kekuatan politik umat.
Kran kebebasan yang dibuka begitu leluasa pasca-Reformasi telah membukakan jalan lebar bagi kembalinya umat Islam mengaktualisasikan potensi politiknya. Berbagai partai yang dengan terang-terangan menyebut diri sebagai “partai Islam” atau mengambil basis massa kelompok-kelompok Islam seperti Muhammadiyah (PAN) dan Nahdhatul Ulama (PKB) bermunculan. Fenomena itu terus berlangsung sampai menjelang Pemilu ke-3 pasca-Reformasi yang digelar tahun 2009 ini.
Setelah kran itu dibuka bagaimana wajah politik Islam saat ini? Apakah tradisi-tradisi politik Islam yang terepresentasikan pada tahun 1955 terulang kembali, semakin menguat atau semakin menurun?. Secara dukungan suara, Anis Baswedan dalam disertasinya menyimpulkan bahwa dukungan suara terhadap partai Islam pada Pemilu 1999 dan 2004 tidak banyak berubah dengan dukungan pada Pemilu 1955. Akumulasi dukungan terhadap partai-partai Islam tetap tidak mengungguli dukungan terhadap partai-partai berhaluan sekular.
Namun demikian, secara kualitatif kemunculan partai-partai Islam pasca-reformasi ini sebagian besar tidak lagi membawa agenda ideologis yang terang-terangan seperti pada Pemilu 1955. Hanya sebagian kecil partai Islam seperti Partai Bulan Bintang (PBB) yang masih ‘menjual’ kampanye Masyumi masa lalu untuk ditawarkan kepada pemilih Muslim masa kini. Pada kenyataannya, sebagian besar pemilih Muslim baru ini sudah tidak legi merespon isu-isu politik Islam lama. Ini menunjukkan sudah terjadi pergeseran pemikiran dari pemilih. Partai-partai Islam pun kemudian sebagian besar mengubah kembali paradigma ‘jualan’ mereka dengan mengadaptasi isu-isu sezaman seperti masalah kesejahteraan rakyat, pengangguran, sembako murah, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan sebagaianya. Tampaknya isu-isu idoelogis yang sangat laku pada era kampanye Pemilu tahun 1955 telah mulai dihindari. Selain sudah tidak kontekstual, juga sebagian besar pemilih Muslim sudah tidak menyenanginya.
Selain faktor isu dalam pemilihan, perubahan kualitatif partai-partai Islam baru ini terlihat pula dalam sikap atau perilaku politik mereka. Selain penyebutan asas Islam secara eksplisit di dalam konstitusi partai-partai Islam dan dukungan riil dari kelompok pemilih Muslim, sikap atau perilaku dan budaya politik partai-partai Islam hampir tidak dapat dibedakan dengan partai-partai lain yang tidak secara eksplisit menyebut diri mereka sebagai partai Islam. Dari sisi eksponennya pun tidak sedikit aktivis partai berhaluan nasionalis dan sekular seperti Golkar dan PDI yang berasal dari keluarga Muslim taat (baca: santri).
Kebudayaan merupakan keseluruhan ide, gagasan, tindakan dan hasil karya yang dimiliki oleh masyarakat yang diperoleh melaui belajar dan dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat (Koentjaraningrat, 1999:156). Salah satu wujud kebudayaan adalah sikap atau perilaku atau tindakan (sistem social)
Sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu. Sikap dapat mengalami perubahan sebagai akibat dari pengalaman. Tesser (1993) berargumen bahwa faktor bawaan dapat mempengaruhi sikap tapi secara tidak langsung. Sebagai contoh, bila seseorang terlahir dengan kecenderungan menjadi ekstrovert, maka sikapnya terhadap suatu jenis musik akan terpengaruhi. Sikap seseorang juga dapat berubah akibat bujukan. Hal ini bisa terlihat saat iklan atau kampanye mempengaruhi seseorang (wikipediaindonesia)
Dengan banyak bermunculnya partai politik yang mengusung isu-isu agama, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan isu-isu lain seiring dengan perkembangan zaman guna merebut simpati atau dukungan masyarakat akan menimbulkan keresahan dan kebimbangan khususnya bagi para santri NU (Nahdlatul Ulama).
B. PERMASALAHAN
Dari latar belakang diatas, dapat ditarik suatu permasalahan yaitu :
1.  Bagaimanakah sikap atau perilaku politik santri NU (Nahdlatul Ulama)

C. PEMBAHASAN
1. Pengertian Santri
Tidak bisa dipungkiri bahwa penyebutan “santri” sebagai suatu unit analisis sosial sangat dipengaruhi oleh publikasi penelitian Clifford Geertz tentang komunitas Islam di suatu kota yang ia sebut dengan “Mojokuto.” Publikasi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan titel Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa dari judul aslinya The Religion of Java
Sebelumnya, istilah santri ini lebih populer disematkan kepada para pelajar Muslim yang menempuh pendidikan di “pesantren”. Di pesantren mereka secara khusus ditempa untuk menjadi ahli-ahli agama. Saat mereka berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendirikan kembali pesantren atau mengajarkannya kembali kepada masyarakat luas, sebutan untuk mereka berubah menjadi “kyai”. Alhasil istilah “santri” pada mulanya digunakan untuk membedakannya dengan “kyai” di suatu pesantren atau pusat pengajaran agama tradisional masyarakat Jawa.
Menurut Geertz, ada ciri khusus dari santri pertama berkenaan dengan doktrin pokok Islam (Al-Quran dan hadis) dan kedua berkenaan dengan persepsi tentang organisasi sosial (dalam konteks apa mereka menempatkan diri). Dalam hal pertama, doktrin ajaran Islam adalah pegangan pokok yang harus mereka jalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal kedua,i organisasi sosial mereka persepsikan iman yang membentuk suatu perkauman (Islam). Sebagai individu Muslim, ia merupakan bagian dari umat Islam di mana pun mereka berada.
Secara lebih singkat dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok “santri” adalah mereka yang menjalankan ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin Islam secara lebih ketat dan taat. Pada Pemilu 1955, secara kasar dapat dilihat bahwa kelompok santri inilah yang menjadi pendukung setia partai-partai Islam seperti Masyumi dan NU.
2. Dasar pemikiran Politik NU
Dasar pemikiran politik NU terutama dipengaruhi oleh paham keagamaan yang dianutnya, yakni ahlussunnah wal jamaah. Disamping itu pemikiran politik kalangan ahlussunnah wal jamaah (Sunni) yang tergabung dalam wadah organisasi NU juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran al-Mawardi dan al-Ghazali, yang telah dijabarkan dalam teori politik Sunni yang terdapat lima prinsip yaitu :
1. Prinsip Ketuhanan
Prinsip ketuhanan dalam kehidupan politik merupakan suatu yang mutlak bagi NU. Dalam bentuk praksisnya, NU tidak membatasi format perwujudan prinsip ketuhanan tersebut dalam bentuk pemerintahan atau Negara secra khusus. Bentuk Negara bagi NU, tidak harus berupa kerajaan Islam, atau yang lainnya, yang penting dalam perjalanan perjalanan Negara haruslah mencerminkan substansi ajaran Islam. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai universal dari ajaran Islam seperti keadilan, kemakmuran, kejujujran, maupun kebebasan dalam menjalankan ibadah dan ritual keagamaan dapat berjalan dengan baik.
2. Prinsip Musyawarah
Teori politik Sunni yang membahas tentang mekanisme pemerintahan sangat mengedepankan tentang prinsip musyawarah (al-syura). Misalnya ketika berbicara mengenai pergantian kepemimpinan, maka yang menjadi dasar paling utama adalah peran rakyat atau ahl syura, walaupun beberapa teori dalam teori politik Sunni ada yang mengesahkan penunjukan putera mahkota (ahl’Ahd)
Dalam Muktamar NU ke 30 di Kediri tahun1999, didefinisikan tentang prinsip musyawarah sebagai pengambilan keputusan dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan dalam urusan bersama, baik secara langsung maupun perwakilan. Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat bahwa NU memegang prinsip bahwa dalam setiap pengambilan keputusan harus melibatkan seluruh unsure yang ada dalam masyarakat, baik itu dilakukan secara langsung maupun perwakilan.
c. Prinsip Keadilan
Rais Am PBNU, DR.KH.M.A. Sahal Mahfudh mendefinisikan keadilan berarti menegakkan kebenaran dan kejujuran, serta belas kasih dan solidaritas. Menurut Kiai sahal, keadilan mempunyai mempunyai abstraksi yang sangat luas, sehingga sering terjadi perbedaan ukuran antara pemimpin dan yang dipimpin dalam memandang tentang keadilan. Pemimpin berpandanagan bahwakebijakan yang telah diambil telah memenuhi kaidah keadilan, sedangkan yang dipimpin menganggap kebijakan yang diambil oleh pemimpinnya belum adil. Dalam hal ini mekanisme musyawarah, dialog yang demokratis dan terbuka antara keduanya merupakan salah satu cara untuk mencari penyelesaian, dengan berpedoman pada standarisasi keadilan yang telah disepakati dan ditetapkan Undang-Undang.
d. Prinsip Kebebasan
Prinsip kebebasan bagi NU diartikan sebagai suatu jaminan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapatnya dengan cara yang baik, bertanggung jawab dan perilaku yang mulia (al-akhlaq al-karimah).
e. Prinsip Kesetaraan
 NU memiliki pandangan yang inklusif dan substantive terhadap realitas masyarakat Indonesia yang plural. Bagi NU, keragaman suku, ras, agama, budaya maupun perbedaan pendapat dan golongan merupakan suatu keniscayaan. Pluralitas dalam kehidupan di dunia merupakan rahmat yang harus dihadapi dengan sikap membuka diri, saling menghormati dan menjalin kerja sama dengan menghilangkan sikap eksklusif.
Prinsip kesetaraan menurut NU adalah suatu pandangan bahwa setiap orang atau individu mempunyai kedudukan yang sama tanpa adanya diskriminasi karena kesukuan, ras, agama, jenis kelamin, kedudukan, kelas social, dan lain-lain (Setiawan, 2007:105)
3. Politik yang dijalankan NU
Menurut Mustasyar PBNU, K.H.Ahmad Mustofa Bisri, setidaknya ada 3 jenis politik dalam pemahaman NU, yakni politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik kekuasaan. NU sejak berdiri memang melakukan aktivitas politik, terutama dalam pengertian yang pertama, yakni politik kebangsaan, karena NU sangat berkepentingan dengan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sejarah perjalanan Indonesia tercatat bahwa NU selalu memperjuangkan keutuhan NKRI. Selain dilandasi oleh nilai-nilai keislaman, kebijakan-kebijakan yang diambil NU juga didasari oleh nilai-nilai keIndonesiaan dan semangat nasionalisme yang tinggi.
Politik jenis yang kedua yang dijalankan oleh NU yaitu politik kerakyatan. Politik kerakyatan bagi NU sebenarnya adalah implementasi dari prinsip amar ma’ruf nahi munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kejelekan) yang ditujukan pada penguasa untuk membela rakyat. Hal itulah yang kemudian diambil alih oleh generasi muda NU melalui LSM-LSM, ketika mereka melihat NU secara structural kurang peduli terhadap permasalahan yang menyangkut rakyat keci.
NU juga menjalankan politik ketiga, yakni politik kekuasaan atau yang lazim disebut politik praktis. Politik kekuasaan merupakan jenis politik yang paling banyak menarik perhatian orang NU. Dalam catatan sejarah, terlihat bahwa NU pernah mendapatkan kesuksesan dalam pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955. Pada saat itu, dalam waktu persiapan yang relative pendek, partai NU yang baru keluar dari Masyumi dapat menduduki peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi yang sangat siap waktu itu. Sejak saat itu banyak tokoh NU yang terjun ke dunia politik praktis. Hal ini membawa dampak negative pada aktivitas penting NU lainnya seperti dalam bidang pendidikan, ekonomi, social, dan dakwah.
 
4. Sikap Politik Kaum Santri
Perilaku politik atau (Inggris:Politic Behaviour)adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik.
Pada masa kolonial, kelompok santri berperan sebagai trigger unntuk menggalang kekuatan massa menentang penguasaan kolonial. Berbagai pemberontakan, terutama sepanjang abad ke-19, yang terjadi di berbagai daerah konsolidasi kekuatannya dilakukan oleh kelompok santri. Dalam hal ini, peran tokoh pemimpin kelompok ini yang sering disebut “kyai” sangat sentral. Budaya ketaatan penuh pada kyai yang dibangun di pesantren-pesantren atau yang dilembagakan dalam tarekat-tarekat sufi memberikan jalan mulus bagi peran kepemimpinan kyai dalam kelompok ini. Beberapa pemberontakan seperti yang terjadi di Banten tahun 1881, Perang Paderi di Sumatera Barat, Perang Diponegoro tahun 1825-1830, dan sebagainya adalah perang-perang yang mencatat peran penting kelompok ini.
Pada masa Kebangkitan Nasional paruh pertama abad ke-20 kelompok ini bertransformasi menjadi organisasi-organisasi keagamaan. Sebagian masih melanggengkan pengaruh dan kepemimpinan kyai seperti yang terlihat dalam organisasi Nahdhatul Ulama. Sebagian lain kepemimpinannya mulai mencair pada model kepemimpinan rasional. Tokoh tercipta karena peran-peran startegisnya bagi pergerakan, bukan karena legitimasi tradisionalnya sebagai kiai. Model kedua ini terlihat jelas pada Muhammadiyah. Para pengamat kemudian mendikotomi kedua varian ini sebagai kelompok modernis (Muhammadiyah) dan tradisional (NU).
Saat pembentukan PPKI dan BPUPKI sebagai cikal bakal berdirinya Republik Indonesia, representasi kaum santri yang mewakili semua kalangan, baik kelompok modernis maupun tradisionalis, terlihat cukup dominan di samping kelompok-kelompok lain yang sering disebut sebagai kaum nasionalis atau “kebangsaan”. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 menjadi tonggak arah dan orientasi baru kelompok santri. Kali ini mereka ikut menjadi penentu perjelanan politik bangsa ini. Perdebatan-perdebatan di Konstituante menjadi monumen sejarah yang mengabadikan peran penting kaum santri dalam merancang bangsa ini ke depan.
Walaupun peran kelompok santri ini cukup penting di dalam perumusan format kenegaraan Indonesia pada masa awal kemerdekaan, posisi marginal masih tetap dirasakan kelompok ini. Pasalnya, saat berbicara masalah politik pemerintahan, sangat sedikit kalangan santri yang menguasai penyelenggaraan birokrasi model Barat. Kebutuhan akan dukungan kelas menengah teknokrat bagi terselenggaranya berbagai program dan target pemerintah membuat posisi kelompok santri semakin menciut. Kelompok santri yang sebagian besar berlatar pendidikan keagamaan tradisional (baca: pesantren) tidak bisa berbuat apa-apa ketika ditantang harus menyelenggarakan pemerintahan secara profesional. Inilah yang menjadi penyebab utama posisi politik kaum santri kembali termarginalkan, padahal sebelumnya secara politik mereka sudah memberikan saham besar bagi berdirinya negara ini.
.
 

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta
Koentaraningrat. 2007. Sejarah Teori Antropologi  II. Jakarta : UI Press.
Setiawan Zudi. 2007. Nasionalisme NU. Semarang : CV. Aneka Imu
(http://www.wikipediaindonesia.com)

SIMBOLISME BANGUNAN KRATON YOGYAKARTA


Sabtu, 25 April 2009 keluarga besar Sosiologi antropologi khususnya semester 6 melakukan studi lapangan ke Yogyakarta. Studi lapangan ini dilakukan berkaitan dengan mata kuliah bentang sosial budaya, religi dan etika jawa dan struktur masyarakat jawa. Ada tiga obyek yang dituju yaitu Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Makam Imogiri. Dalam pemaparan saya kali ini, saya lebih memfokuskan pada mata kuliah struktur masyarakat jawa. Dimana saya akan mengamati bangunan kraton yogyakarta sebagai manifestasi dari kebudayaan jawa.
            Orang jawa dalam kehidupan sehari-harinya penuh dengan simbol-simbol. Simbol tersebut dapat berupa tanda, warna, bangunan dan lain sebagainya. Bangunan kraton merupakan salah satu simbol kebudayaan jawa. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah makna simbolik dari bangunan kraton Yogyakrata? dan apakah ada hubungan antara makna simbolik bangunan kraton dengan stuktur sosial di kraton Yogyakarta?
Kraton Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono 1 pada tahun 1756. Karaton, Keraton atau Kraton, berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja. Sedang arti lebih luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan wilayah Kraton mengandung arti berkaitan dengan pandangan hidup Jawa yang essensial, yakni Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati).Garis besarnya, wilayah Kraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Krapyak dan 2 km ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme terbalik, sehingga bisa dibaca secara simbolik filosofis. Dari arah selatan ke utara, sebagai lahirnya manusia dari tempat tinggi ke alam fana, dan sebaliknya sebagai proses kembalinya manusia ke sisi Dumadi (Tuhan dalam pandangan Jawa). Sedangkan Kraton sebagai jasmani dengan raja sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani. Kraton Yogyakarta mempunyai peranan yang sangat penting sebagai faktor penentu dalam dinamika kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kraton Yogyakarta menghadap ke arah Utara, pada arah poros Utara Selatan antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, dengan halaman depan berupa Alun-alun (lapangan) yang dimasa lalu dipergunakan sebagai tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat. Di bagian tengah alun-alun lor terdapat dua pohon beringin yang dikelilingi tembok, yang disebut beringin kurung (waringin kurung). Dua pohon beringin yang terletak bersebelahan itu, masing-masing bernama kyai Dewadaru (sebelah barat), bibitnya berasal dari Majapahit dan kyai Wijayadaru (sebelah timur) yang bibitnya berasal dari Pajajaran. Dua pohon beringin itu sebgai simbol bahwa didunia ini terdapat dua sifat berbeda yang saling bertentangan (dualisme). Sedangkan pohon beringin yang mengelilingi alun-alun lor ini jumlahnya 62 pohon, serta ditambah dengan 2 beringin yang berada ditengah, sehingga jumlah seluruhnya menjadi 64 pohon beringin. Jumlah 64 menunjukkan usia nabi Muhammad SAW ketika beliau wafat (menurut perhitungan tahun jawa). Sistem klasifikasi simbolik orang jawa didasarkan pada dua, tiga, lima, dan Sembilan kategori. System yang didasarkan  pada dua kategori dikaitkan oleh orang-orang jawa dengan hal-hal yang berlawanan,yang bermusuhan atau yang saling butuh-membutuhkan dan teutama didasarkan pada perbedaan antara orang serta hal-hal yang tinggi (inggil) dan yang rendah kedudukannya (andhap), perbedaan antara orang dan hal-hal yang asing, jauh, formal (tebih), serta yang biasa, dekat dan informal (celak); perbedaan antara orang dan hal-hal yang berada di sebelah kanan (panengan) dengan yang ada di sebelah kiri (pangiwa); perbedaan antara orang dan hal-hal yang suci dan profan;dan akhirnya perbedaan antara orang dan hal-hal yang halus(alus) dan yang kasar
Deskripsi diatas menjelaskan bahwa bangunan kraton mempunyai arti tersendiri yang menggambarkan adanya struktur sosial dikraton. Untuk memahami lebih dalam tentang struktur sosial yang terdapat dikraton Yogyakarta, ada beberapa istilah yang menyertainya diantaranya yaitu, system sosial, stratifikasi sosial, kelas sosial,dan  struktur sosial.
Sistem sosial adalah suatu jaringan dimana bagian-bagian/elemen-elemen jaringan tersebut saling pengaruh mempengaruhi secara deterministik.”  Keharmonisan dalam sistem sosial didasarkan pada pranata sosial, sistem yang mengatur interaksi yang mengintergrasikan pola perilaku dan komunikasi agar masyarakat dapat hidup tentram dan harmonis.  Dalam masyarakat Jawa sistem sosial dapat dilihat dari pembagian stratifikasi sosial dan pola sikap anggota masyarakat.
Stratifikasi sosial adalah penggolongan anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas yang didasarkan pada karakteristik tertentu. Menurut Max Weber, stratifikasi sosial didasarkan pada dimensi ekonomi, sosial dan politik. Maka dari itu masyarakat terbagi menjadi kelas (secara ekonomi), kelompok status (sosial) dan partai (politik). Weber juga menambahkan bahwa dimensi ekonomi adalah dimensi penentu bagi dimensi lainnya.
Pengertian kelas adalah kesetaraan kemampuan ekonomi orang-orang dalam suatu kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup dan statusnya. Semakin tinggi kemampuan ekonomi suatu kelas untuk memiliki jasa, benda dan lain-lain berarti semakin tinggi kelasnya dalam masyarakat. Kelas menengah ke bawah memiliki kemampuan ekonomi yang terbatas untuk mendapatkan kemewahan selayaknya kelas atas. Hal ini kemudian menjadikan masyarakat terbagi dalam tingkatan-tingkatan social.
Struktur Sosial, struktur yang mewarnai suatu masyarakat tradisional berintikan kekerabatan, kesukuan, atau keagamaan. Struktur yang bersifat primordial itu tertutup bagi yang lain di luar hubungan-hubungan itu dan tidak bersifat sukarela. Dalam masyarakat modern,struktur sosial bersifat terbuka dan bersifat sukarela. Jadi, yang berkembang dan menjadi tiang-tiang masyarakat adalah organisasi politik, organisasi ekonomi, organisasi sosial, termasuk organisasi profesional dan fungsional.
Talcot Parson menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem social. Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton, seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status).
Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.
 Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang dulunya merupakan suatu wilayah kerajaan yang kemudian masuk dan menyatu dalam kesatuan wilayah RI, seperti wilayah kerajaan pada umumnya, kerajaan yogyakarta atau yang umumnya disebut kasultanan yogyakarta dipimpim oleh seorang raja yang disebut dengan gelarnya adalah SRI SULTAN HAMANGKUBUWONO.
Dalam struktur social dalam wilayah kerajaan tentu saja Raja menempati tingkatan tertinggi dalam struktur social masyarakatnya, begitulah struktur social yang ada di yogyakarta SRI SULTAN HAMANGKUBUWONO menempati posisi tertinggi sebagai orang yang berkuasa dan paling di hormati di yogyakarta. Gelar Sri Sultan HB merupakan gelar yang diperoleh (ascribed status) secara turun temurun.  Untuk gelar yang berada dibawahnya ditempai oleh orang- orang yang ada di dalam birokrasi pemerintah kerajaan seperti patih dan mereka yang masuk dalam tatanan kasultanan serta mereka yang masih kerabat Raja serta abdidalem. Warga kraton sangat menghormati dan menghargai raja mereka. Mereka sangat mengagungkan raja mereka dalam segala hal. Mereka tidak berani untuk menantang raja mereka, bahkan untuk sekedar menatap mata atau berpandangan langsung dengan raja mereka anggap itu adalah hal yang sangat tidak pantas dilakukan karena itu berarti mereka menantang raja mereka. Bila mereka akan menghadap raja mereka, dilakukan dengan laku ndodok. Dalam lingkungan kraton pakaian yang mereka kenakan juga sesuai dengan tingkatannya, kemudian ada sebagian dari para abdi dalem yang tidak memakai alas kaki, karena menurut mitos bahwa pasir yang ada dalam lingkunan kraton adalah pasir dari pantai selatan yang merupakan istana dari kanjeng ratu Nyi loro kidul, sehingga untuk menghormati keberadaannya maka mereka tidak memakai als kaki bila berjalan di atas pasir tersebut. Laku ndodok ini tidak hanya dilakukan jika mereka menghadap langsung kepada raja mereka, hal ini juga mereka lakukan bila mereka menghadap atau berziarah ke makam-makam para raja yang telah mangkat terlebih dahulu. Hal itu mereka lakukan karena mereka sangat menghormati raja mereka. Kemudian selain tempat itu mungkin ada lagi tempat-tempat yang lain. Tapi setahu saya keraton juga merupakan tempat yang sangat disakralkan oleh masyarakat Yogyakarta, bagi para abdi dalem menghormati keraton sama halnya dengan menghormati raja mereka.
Para abdi dalem merupakan orang-orang yang mengabdi pada raja Yogyakarta dan keraton. Dari sekilas wawancara dengan salah satu abdi dalem, beliau menyebut bahwa ada struktur para abdi dalem yaitu:
1.      Magang
2.      Jajar
3.      Lurah
4.      Bekel
Selain para abdi dalem ada juga para prajurit  yaitu:
1.      Prajurit Wirobrojo
2.      Prajurit Ketanggung
3.      Prajurit Patang puluh
4.      Prajurit Gaeng
5.      Prajurit Bugis
6.      Prajurit Mantri Anom
7.      Prajurit Surokarso
8.      Prajurit Nyotro
9.      Prajurit Njogokaryo
10.  Prajurit Prawitokarso
Prajurit keraton yang dahulu benar-benar berfungsi sebagai militer, penjaga keamanan dan keselamatan nagari. Seiring perputaran jaman, kini lebih berperan sebagai ‘pelengkap’ ritus adat tradisi peristiwa budaya yang terjadi di dalam keraton itu sendiri. Seperti sebagai anggota marching band dalam upacara dalam keraton.
Di keraton itu sendiri terdapat tempat-tempat yang mungkin juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur bahwa di dalam keraton ada stratifikasi berdasarkan jabatan yang di pegang, misalnya:
1.      Bangsal Pekapalan yaitu tempat bermalam senopati perang.
2.      Bangsal Pemandengan adalah tempat duduk raja ketika ada upacara gladi bersih di alun-alun.
3.      Bangsal Palikeran adalah bangsal para abdi dalem.
4.  Bangsal Kori adalah tempat untuk berjaga dan mernagkap juga tempat para  
     abdi dalem.
Seperti halnya bahasa jawa umumnya, bahasa yang digunakan dalam kehidupan di keraton juga terdapat stratifikasinya yang terdiri dari bahasa krama ingil, krama madya, krama alus, ngoko alus, ngoko madya, ngoko biasa. Menurut sepengetahuan saya penggunaan bahasa tersebut antara lain, bahasa krama inggil dipakai oleh para bawahan kepada raja, kemudian krama madya adalah oleh sesama kerabat kerajaaan, krama alus oleh sesama pejabat kerajaan.
Inti dari struktur masyarakat di Kraton Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai pemimpin di dalam keraton Yogyakarta dan juga sebagi pemimpin atau Sultan di Keraton Yogyakarta. Kraton Yogyakarta memanglah bangunan tua, pernah rusak dan dipugar. Dilihat sekilas seperti bangunan Kraton umumnya. Namun jika kita dapat mengamatinya dengan seksama terdapat makna simbolis, sebuah filosofi kehidupan, hakikat seorang manusia, bagaimana alam bekerja dan manusia menjalani hidupnya dan berbagai perlambangan eksistensi kehidupan terpendam di dalamnya.